5 Bekal Menjadi Dai Tangguh

            JIKA dalam surah al-Muddatsir, umat Islam ditekankan untuk menjadi manusia mushlih (pelopor dan penular kebaikan bukan sekadar saleh secara individu), maka pada surah al-Muzammil membicarakan bekal-bekal mereka dalam mengarungi terjalnya medan dakwah.

Dalam al-Qur’an tidak ada satu pun ayat yang secara langsung memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan namanya. Berbeda dengan Nabi yang lain seperti Nabi Isa AS. dan Nabi Musa AS. Kalau pun ada penyebutan nama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah kalimat berita. Itu salah satu tanda kemuliaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sebagaimana yang tersurat dalam ayat ini:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ

Hai orang yang berselimut (Muhammad).” (QS. Al-Muzammil [73] : 1)

Makna al-Muzammil adalah orang yang memakai selimut tebal, dan biasanya dipakai pada musim dingin. Sedangkan Al-Mudatsir itu orang yang berselimut dengan selimut tipis, dan biasanya dipakai pada musim panas.

            Jika di surat al-Mudassir ditekankan tentang misi awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemberi peringatan. Maka di Surat al-Muzammil tekanannya kepada pembekalan, motivasi untuk berbekal. Misi hidup pemberi peringatan dengan yang lainnya itu berbeda, maka berbeda pula perbekalannya.

Ada makna yang tersirat ketika Allah subhanahu wata’ala memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebuatan al-Muzammil. Makna tersiratnya: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sang pembawa risalah yang berat. Kalau al-Mudatsir disuruh memakai selimut tipis dan diperintahkan untuk bangkit memberi peringatan. Maka dalam surah ini Allah subhanahu wata’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bangkit membangun hubungan dengan Allah subhanahu wata’ala sebuah bekal yang lebih hebat dengan membangun kedekatan dengan Allah. Bekal-bekal tersebut secara rinci sebagai berikut:

Pertama, mendirikan shalat malam.

{ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا (5) إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا (6) إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا (7)} [المزمل: 2 – 7]

“2. Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). 3: Satu perduanya atau kurangilah daripadanya sedikit. 4: Atau lebih daripadanya. Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. 5: Sesungguhnya Kami (Allah) akan menurunkan kepada engkau perkataan yang berat. 6: Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih mantap dan bacaan lebih berkesan. 7: Sesungguhnya bagi engkau pada siang hari, urusan yang panjang.” (QS. Al-Muzammil [73] : 2-7)

                Inilah bekal pertama yang Allah subhanahu wata’ala  berikan untuk orang-orang yang ingin melanjutkan misi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Jika dalam surah al-Mudatsir Allah subhanahu wata’ala memotivasi maka di surat ini, Allah subhanahu wata’ala  mengajarkan bekal-bekalnya. Dalam Tafsir al-Sa’di dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk bangkit memulai semua aktivitasnya dengan beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Bangunlah seperduanya, atau kurangi seperdua itu sedikit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diprekondisikan terlebih dahulu sebelum memberi peringatan agar mempunyai kesiapan untuk menerima qaulan tsaqilan (perkataan yang berbobot). Karena jika tidak demikian, Nabi Muhammad bisa error.

Menariknya di sini dipilih waktu malam. Karena sesungguhnya, pada malam itu adalah waktu yang tepat untuk khusyu. Selain itu, bacaan yang dibaca lebih berkesan menghunjam di dalam jiwa. Di samping itu, waktu malam itu tepat karena di waktu siang banyak urusan yang menyibukkan.

Dalam  surat al-Muzammil ini, Allah  menyuruh Nabi untuk menyudahi urusan dunia karena telah terlalu banyak. Maka Allah subhanahu wata’ala memerintahkan beliau untuk bangkit dimalam hari untuk berdua-duaan dengan Allah subhanahu wata’ala.

Dalam sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyukai ada pertemuan, acara, dan lain sebagainya setelah shalat Isya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Isya lebih banyak tidur untuk nanti bangun mendirikan shalat tahajjud.

Kedua, menyebut nama Allah subhanahu wata’ala.

 {وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا} [المزمل: 8]

“Sebutlah nama Rab (Tuhan) engkau, dan beribadahlah kepada-Nya (kepada Allah) dengan sebenar-benar ibadah.” (QS. Al-Muzammil [73] : 8)

Bekal kedua untuk menjadi pejuang penerus risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah menyebut nama Allah subhanahu wata’ala Berdzikir dan beribadah. Misalnya, pada waktu siang hari menjadi pencinta masjid, maniak shalat, menjadi orang yang ketagihan zikir, dan menjadi orang yang sakaw  kalau tidak shalat berjamaah di masjid.

            Ketiga, menjadikan Allah sebagai pelindung.

 {رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا} [المزمل: 9]

“Rab (Tuhan) masyrik dan maghrib, tiada Ilah (Tuhan) melainkan Dia (Allah), maka ambillah Dia (Allah) sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzammil [73] : 9).

Allah subhanahu wata’ala menjelaskan sisi lain dari diri-Nya, yaitu Tuhan masyriq dan maghrib atau Tuhan tempat terbitnya matahari di timur dan terbenamnya matahari di barat. Dengan dua tekanan tadi dan tidak ada sesembahan selain dia maka output-nya adalah jadikanlah Tuhan kamu itu sebagai sandaran dan pelindung. Maknanya, jika pemahaman tentang timur dan barat belum berujung kepada laa ilaaha illa huwa, maka tawakkal itu belumlah sempurna.

Modal yang besar untuk menjadi pelanjut risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tawakkal kepada Allah subhanahu wata’ala. Setelah mengfungsikan malam jadi malam dan setalah dijelaskan apa sedang kamu lakukan dan akan kamu lakuakn di waktu siang, maka dijelaskan, jika ingin sukses sebagai pengembang risalah maka bertawakkallah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Untuk mencapai tingkatan itu terlebih dahulu diawali dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah penguasa masyriq dan magrib serta tidak ada Tuhan selain Dia.

Keempat, bersabar dalam berdakwah. Kelima, menhindari gangguan komunikan dakwah secara beradab.

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzammil [73] : 10).

Bekal keempat dan kelima adalah harus menghadapi berbagai macam tantangan. Bersabar atas berbagai ucapan keji, tuduhan-tuduhan, fitnah, yang ditujukan kepada pengembang risalah. Karena hal itu adalah sesuatu yang pasti terjadi bagi penerus risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu jauhilah mereka dengan cara yang beradab.

Jadi, ada lima bekal bekal untuk menjadi dai tangguh ialah: menegakkan shalat malam, gemar berdzikir kepada Allah, menjadikan Allah sebagai pelindung, bersabar dalam berdakwah, dan menghindari gangguan mad’u (obyek dakwah) secara beradab. Wallahu ‘alam.

[Tadabbur KH. Bachtiar Nasir. Surah al-Muzammil 1-10]

*Laporan: Muhajir

*Editor: Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!