Tak Ada Kata Seandainya….

ORANG yang benar pemahamannya tentang konsep Islam, dia tidak akan ragu dengan rencana-rencana masa depannya. Tiada pula kata penyesalan yang membuat langkahnya berat dalam menapaki kehidupan baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Tidak ada kata seandainya, jika saja saya tahu, coba kalau begini, dan lainnya.

Keyakinan kepada Allah itulah yang selalu membuatnya selalu merasa dekat kepada-Nya. Di mana pun ia berada, ia selalu optimistis dan sadar (aware) bahwa Allah selalu menyertainya dan hanya Allah yang memberikan segala kebaikan. Bisikan rasa khawatir dan takut datangnya dari setan yang selalu membuatnya was-was sehingga itulah yang mendatangkan energi negatif dalam jiwanya. Tetapi orang yang punya kesadaran (awareness) adanya Allah, mulutnya terus berzikir dan menyebut asma-asma Allah dalam berbagai keadaan yang dirasakan dan dialaminya. Yaitu menyebut kalimat thayyibah seperti Alhamdulillah, Astaghfirullah, Maa Syaa Allah, Hasbunallah, Qadarullah, Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun, dan seterusnya. Kekuatan dari ungkapan-ungkapan tersebut menjadi penawar rasa khawatir yang mampu mengokohkan keyakinan kita kepada Allah SWT dan secara otomatis akan menghilangkan energi-energi negatif dalam diri kita.

Mari kita bedah satu per satu dimulai dari kalimat tasbih yaitu Subhanallah, Maha Suci Allah. Subhanallah artinya tidak ada yang boleh lebih bersih dari Dia. Allah suci dari kekurangan dan suci dari kehinaan. Allah adalah satu-satu-Nya yang Maha Suci.

Alhamdulillah: Allah adalah satu-satu-Nya yang mendapat puja dan puji atas semua kebaikan yang kita rasakan. Ada orang yang berbuat baik kepada kita, ucapkan Alhamdulillah. Semua kebaikan yang kita dapatkan dari makhluk adalah karena ketertundukan makhluk di bawah kuasa Allah, kemudian dia berbuat baik kepada kita. Allah yang membuat orang itu bisa berbuat baik kepada kita sehingga kita wajib mengucapkan Alhamdulillah.

Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’un: Sesungguhnya hanya kepada Allah kami kembali dan sesungguhnya pada akhirnya harus kembali kepada Allah. Mau kemana ummat manusia ini kecuali kembali kepada Allah? Bagi Allah, menghidupkan atau mematikan satu orang sama mudahnya menghidupkan atau mematikan banyak orang. Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa kisah yang menceritkan bagaimana Allah menghidupkan orang mati, dan mematikannya kembali.

Astagfirullah: Hanya Dia yang bisa mengampunkan dosa-dosaku tidak ada yang bisa mengampunkan kesalahanku, tidak ada yang bisa membebaskanku dari bencana akibat keslaahanku selain Allah.

Hasbunallah: Artinya, aku hanya merasa cukup bersama Allah. Tidak ada yang lain yang bisa mencukupkanku selain Allah. Yang lain selain Allah hanya bisa memberikan janji tetapi tidak ada yang bisa memenuhi janjinya selain Allah.

Maasya Allah: Semua yang istimewa di depan mata ini karena kehendak Allah. Bukan kehendak yang lain sehingga kita tidak bisa sombong, lupa diri, tertipu dan takjub, karena semuanya atas kehendak Allah.

Na’udzu billah: Hanya kepada Allah aku memohon perlindungan. Hanya dia yang bisa memberikan perlindungan kepadaku, selain dia tidak ada. Ketika kita mengatakan a’udzubillah, artinya aku merasakan kelemahan di hadapan-Mu dan tidak ada yang bisa memberikan perlindungan, maka di situlah manusia di puncak rasa aman.

Insya Allah: Ketika kita sudah berjanji, yakinlah Allah akan memamopukan kita memenuhi janji. Jika mengucapkan insya Allah, hampir 100 persen kita bisa menunaikannya. Misalnya, Insya Allah besok saya bayar utang karena uangnya sudah ada. Tinggal diserahkan. Kalau pun lupa, bisa lewat ATM. Kalau masih lupa lagi, ada mobile banking. Jadi ada tiga lapis. Tetapi tidak bisa dipastikan kecuali karena kehendak-Nya.

Beruntunglah kita yang sudah kenyang dengan keyakinan kepada Allah dengan ungkapan-ungkapan tersebut. Ucapan itu adalah konsep ketuhanan dan konsep keyakinan yang membedakan kita dengan yang lain. Tidak ada zikir hanya dengan mengulang-ulang lafadz Allah saja. Takjub dengan sesuatu, kemudian mengatakan Allah, dibolehkan. Kemudian dalam kondisi sakit sekali lalu menyebut, Ya Allah. Itu dibolehkan. Beda dengan mengulang-ulangi, misalnya Allah, Allah, Allah. Namun, hati-hati dengan istilah-istilah yang memelesetkan kebesaran Allah terutama bahasa pergaulan anak muda sekarang.

Ungkapan-ungkapan di atas harus diyakini mampu menghilangkan segala bentuk perasaan negatif yang mengendap dalam jiwa. Apa pun skin care-nya, jika dalam hati dan jiwa orang itu masih terdapat energi negatif, tidak akan ada cahaya kebaikan dan kesejukan yang terpancar dari wajahnya. Karena masih tersimpan energi negatif dalam hatinya. Kenapa rumah tangga cekcok, komunikasi keras, anak-anak kasar. Periksa dulu jiwanya, di dalamnya tidak ada kalimat-kalimat Allah.

Makanya dalam rukuk dan sujud itu jangan terlalu cepat-cepat. Salah satu trik untuk khusyuk dan sehat dalam shalat adalah berlama-lama dalam sujud dan rukuk. Baca Subhaana Rabbiyal ‘Azhim rasanya tidak cukup kalau hanya sekali saja. Orang yang berlama-lama dalam sujudnya, akan terasa nikmatnya begitu ia bangkit dari sujud. Jiwa ini seperti plong. Apalagi kalau paham semua bacaan shalat. Sujud juga sangat bermanfaat untuk kesehatan muka karena oksigen dan aliran darah lari ke wajah. Kalau sujudnya sudah bagus, maka hatinya juga tentram.

Kalau pun dalam shalat wajib merasa terbatas karena harus mengikuti imam, puas-puaskanlah shalat dalam shalat-shalat sunnah. Saat tahajjud, salat sunnah qabliyah dan dan bakdiyah, shalat tahiyatul masjid. Panjangkan sujud dan rukuk, baca surat-surat yang dihafal sebagai murajaah agar hafalannya tidak hilang. Sebab kalau shalat berjamaah, saat menjadi imam pun kita harus melihat kondisi makmum. Jangan sampai ada jamaah tidak kuat secara fisik yang ikut di belakang.

Dalam ilmu psikologi dikenal tiga kiat untuk menghilangkan energi negatif dalam jiwa yaitu, awareness, acceptance, dan let it go. Dalam ajaran Islam, awareness itu adalah kesadaran untuk selalu mengingat dan menyebut nama Allah. Kalau tidak aware kepada Allah, manusia itu biasanya tidak akan sadar-sadar sehingga ada istilah kesetanan. Orang yang tidak aware kepada Allah adalah orang yang dalam hidupnya mengalami kesetenan sehingga ia sesat. Orang kesetenan ini lebih susah penyembuhannya daripada menyembuhkan kesurupan. Kalau kesurupan bisa disebuhkan hanya beberapa menit, jinnya langsung kabur. Tetapi yang kesetanan, butuh waktu dan proses untuk penyembuhannya. Yang kesetanan, dia tidak sadar dengan perbuatannya. Apa yang bisa membuat sadar, adalah Lafdzul Jalalah.

Kalau awareness sudah ada, tidak susah menghilangkan energi negatif dalam jiwa manusia, dan biaya perawatannya pasti murah. Kalau ada awareness dalam jiwanya, maka ia pasti mudah menerima kenyataan (acceptance). Bahasa Islamnya adalah ridha. Kalau kita tidak bisa menerima keadaan, energi negatif terus menjadi racun atau toksin. Air mata yang harusnya tumpah karena takut kepada Allah tetapi tidak tumpah, itu bisa menjadi racun. Belum lagi berbagai perasaan dan kekalutan yang tidak tuntas pada dirinya sendiri. Kenapa mudah menerima kenyataan dalam hidupnya, karena tahu Allah Maha Kuasa. Semua masalah yang menimpanya dikembalikan kepada Allah dengan cara tawakkal. Kalau sudah tawakkal, jiwa plong sehingga tidak menyimpan penyakit dalam hati dan jiwanya. Beberapa penyakit yang bahaya bagi manusia adalah iri hati atau hasad, dendam, dengki, sombong, angkuh, dan lainnya. Penyakit ini tidak kelihatan tetapi itu yang menyebabkan pembuluh darahnya mengecil sehingga aliran darahnya tersumbat. Sumbatan aliran darah itulah yang mendatangkan banyak penyakit.

Langkah selanjutnya, let it go. Banyangkan, macet itu adalah sebuah energi negatif. Nah, bagaimana jika kita bisa lepas dari kemacetan, perasaan pasti lapang. Allah berfirman: Alam nasyrah laka shadrak (Bukankah telah kulapangkan dadamu?). *azh (Disarikan dari ceramah KH Bachtiar Nasir)

 

Sebarkan Kebaikan!