3 Resep Anti Gagal

SUPAYA tidak mengalami kegagalan, tadabburilah Surah Al-Anfal [8] ayat empat puluh enam berikut ini:

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal [8] : 46).

Taat Kepada Allah dan Rasul-Nya

Dari ayat ini, kita bisa mengambil tiga resep anti gagal. Pertama, taat kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Taat kepada Allah subhanahu wata’ala adalah energi. Sebab, Allah itu al-Qowiyyu, al-Matinu, al-Jabbaru, dan alQohharu. Jadi, Allah adalah sumber segala kekuatan, baik dari sisi kreatifitas berpikir, keberanian menghadapi tantangan, dan menemukan kreatifitas baru.

Ini terjadi ketika kita taat kepada Allah subhanahu wata’ala dan taat kepada rasul-Nya. Tentu dengan sunah-sunahnya. Yang dimaksud disini adalah bahwa prototipe (model) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan gerakannya yang dilakukannya ini harusnya menjadi inspirasi dan teladan bagi kita semua. Misalnya, secara strategis Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berhijrah ke Madinah.

Kondisi Madinah saat itu sebetulnya tidak lebih baik dari Mekah karena secara sosiologis sistem riba dalam ekonomi Yahudi pada saat itu sudah eksis di Madinah. Tatanan sosial Yahudi juga sudah eksis di Madinah. Pertarungan ideologi dan pertarungan sosiologisnya sekaligus pertarungan kulturalnya sebetulnya lebih berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhirah bukan karena takut karena perintah Allah subhanahu wata’ala, tapi ini energi dari Allah subhanahu wata’ala.

Lebih penting lagi, ketika kita konsisten kepada As-Sunnah akan ada kreatifitas baru yang kita temukan untuk merubah tantangan menjadi sebuah potensi. Dengan demikian, tidak melulu melihat potret problematika tetapi melihat potret potensi.

Gagal biasa itu biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah gagal ketika di Madinah. Saat itu, ada orang mencangkok tanamanannya untuk meningkatkan kapasitas produksi. Beberapa orang di antara orang ini bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika itu beliau melarang mereka untuk mencangkok.

Pada musim panen, orang yang mengikuti saran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam panennya gagal. Sedangkan yang tidak mengikuti beliau panennya bagus. Rasul kemudian mengakui kegagalannya, dengan mengatakan, “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim). Ini berarti kita punya hak untuk improvisasi tetapi tahapan-tahapan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harus diikuti.

            Selain itu, yang tidak kalah penting, jangan terlalu mengedepankan rasionalitas. Jangan terlalu mengedepankan analisis sebelum sahih ilmu dan sunnahnya dari Allah Rasul, dan para sahabat. Begitulah dalam sebuah perjuangan menuju kemenangan. Rute itu yang harus dilakukan. route map itu yang harus diikuti menuju sebuah kekuatan.

 

Tidak Mencabut Kasih Sayang

Kedua,  tidak mencabut rasa kasih, sayang dan cinta. Jangan sampai hal ini dilakukan gara-gara persoalan sepele. Hanya karena ketersinggungan misalnya,  kita kemudian mencopot rasa kasih sayang.

Kenapa menggunakan kata “tanaza’u”? Kata ini berakar dari kata “naz’u” yang artinya mencabut dengan keras. Maksudnya, sebetulanya kita tidak ingin melakukan itu tapi kita paksa, kita habisi rasa kasih kepada sesama. Di sini penyebab kegagalan dan tidak setiap pemimpin punya kecerdasan untuk bisa bertahan, bersabar dari yang tidak dia inginkan.

Jadi, satu kata kunci kalau ingin berhasil dalam gerakan khususnya gerakan Islam adalah wala tanaaza`u (jangan saling mencabut rasa kasih sayang). Tahan emosi. Maafkan. Jangan cuma tahan,  tidak dimaafkan. Ini bisa buang-buang waktu. Suatu saat akan meledak lagi. Tahanlah emosi kemudian maafkan. InsyaAllah tidak akan meledak.

Bersabarlah!

Ketiga, adalah bersabar.  Bersabarlah! Karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala bersama orang-orang yang sabar.  Sabar pada ketaatan, nikmat, dan menahan diri dari larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu, kita akan mendapatkan ma’iyyatullah (kebersamaan Allah). Orang yang sudah mendapatkan ma’iyyah Allah dalam hidupnya, tidak mungkin akan mengalami kegagalan.

Jadi,  resep anti gagal adalah: menaati Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya; tidak mencabut rasa kasih sayang dalam hatikepada sesamamu khususnya pada tim kamu; kemudian bersabar, karena, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal [8] : 46). Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!