10 LANGKAH TADABBUR AL-QUR’AN

Ada orang mau dapat mutiara. Namun caranya salah. Dia memang datang ke pinggir laut, tetapi justru terlena dengan suasana indahnya pantai. Di situ ia menikmati debur ombak, langit biru, serta memandang samudera yang tak terbatas. Dia tahu di dasar laut ada mutiara tetapi ia enggan menyelam. Lalu mutiara apa yang akan ia dapatkan jika ia tetap saja duduk dan tak kunjung menyelam?

Menyelam ke dasar laut memang bukan pekerjaan yang mudah. Meski di dalam laut terang dan ada cahaya. Tanpa kacamata, berapa lama bisa melihat di dalam air? Tanpa tabung oksigen, berapa lama penyelam bisa bertahan di dalam air?  Tetapi, adakah orang yang bisa menyelam tanpa kacamata dan oksigen? Jawabannya ada kalau tahu ilmunya.

Begitu juga dengan Al-Qur’an. Ada orang, baru lima menit membaca Al-Qur’an, matanya sudah perih. Belum menyelami makna dan kandungan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, seakan-akan sudah kehabisan oksigen. Kalau begitu, bagaimana ingin mendapatkan mutiara ayat-ayat dalam Al-Qur’an? Kalau cuma membaca saja tidak memiliki ilmunya, tidak akan dapat.

Karena itu, bertadabburlah. Tadabbur adalah sebuah pendekatan yang diinginkan Al-Qur’an untuk mendapatkan mutiara-mutiaranya. Mentadabburi Al-Qur’an itu seperti menyelami dasar-dasar laut yang di dalamnya terdapat banyak mutiara. Seperti membongkah batu-batu karang. Lewat tadabbur, mutiara dalam Al-Qur’an dapat diraih. Supaya bisa mendapatkan banyak manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an bertadabburlah. Nah, dalam mentadabburi Al-Qur’an, ada sepuluh langkah yang harus ditempuh berdasarkan langkah-langkah tadabbur versi Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center.

Namun sebelum bertadabbur, sebaiknya guru atau ustadz dan murid dalam kedaaan suci yaitu dengan berwudhu. Dengan begitu, ada proses kesucian secara ilahiah yang bisa diserap oleh semua yang terlibat dalam proses tadabbur. Kedua, dianjurkan membaca terlebih dulu: Subhanaka laa ‘ilma lanaa ilaa maa ‘allamtanaa innaka Antal-Alimul Hakim. Mahasuci Engkau Ya Allah. Sesungguhnya tidak ada ilmu yang bermafaat bagi kami kecuali ilmu yang berasal dari-Mu dan sesungguhnya Engkau adalah sumber segala ilmu dan sumber segala hikmah. Ayat ini biasanya dibacakan tiga keali dengan maksud ikrar bahwa pengajar harus merasakan bahwa bukan dialah yang mengajarkan Al-Qur’an tetapi berasal dari Allah SWT.

Para murid harus menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan pusat semua itu adalah Allah SWT. Dengan kasih sayang-Nya semata sehingga kita bisa memahami Al-Qur’an.  Ayat Subhanaka laa ‘ilma lanaa ilaa maa ‘allamtanaa innaka Antal-Alimul Hakim dalam Surat Al-Baqarah adalah ungkapan Malaikat yang mengagungkan Allah SWT setelah mengetahui maksud dari penciptaan Adam sebagai khalifah di muka bumi ini. Artinya, ini adalah ungkapan kepatuhan dan ketaataan para Malaikat yang sebelumnya sempat mempertanyakan penciptaan manusia di muka bumi. Malaikat tidak tahu kecuali Allah yang mengajarkan ilmu pengetahuan. Itulah kebiasaan baik yang disampaikan di awal kelas sebagai bentuk pengakuan bahwa Allah adalah sumber dari segala ilmu dan selain dari Allah bukanlah imu yang bermanfaat.

Ketiga, berdoa bersama-sama dengan membaca Rabbi zidnii ‘ilman, sebagaimana dalam Surat Thaha. Namun tidak dilanjutkan dengan Warzuqnii Fahman, karena ayatnya memang sampai di situ saja. Adapun yang sering diajarkan di sekolah-sekolah tenatng Warzuqnii Fahman, hanyalah sebuah tambahan yang tidak perlu. Karena ketika Allah sudah memeberikan ilmu, maka dengan otomatis telah diberikan rezeki pemahaman.  Doa lain sebelum memulai Tadabbur Al-Qur’an adalah Allahumma j’alnaa min man yastami’uunal qaula fayattabi’uuna ahsana. Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang  mendengarkan kata-kata baik secara seksama dan mampukanlah kami untuk bisa mengamalkan yang terbaik di antara kebaikan-kebaikan yang kami dengar.

Ketika kondisi ini sudah diberikan kepada peserta Tadabbur Al-Qur’an barulah tadabbur dimulai dengan menyampaikan tema secara tematik tentang ayat yang dipelajari. Tadabbur Al-Qur’an memang berat sehingga rata-rata hanya dua tiga ayat saja yang bisa ditadabburi dalam satu kali pertemuan. Bahkan terkadang satu ayat saja. Begitu juga yang dilakukan di AQL Islamic Center supaya kelas senantiasa bisa berdiri sendiri. Ketika ada yang tidak hadir ada pertemuan sebelumnya, bisa mencerna secara cermat tema yang dibahas pada saat hadir di kelas tanpa harus mengulang tadabbur sebelumnya. Dengan pembahasan secara tematik, peserta tidak akan ketinggalan pelajaran. Tentu lebih baik jika mempelajari ayat-ayat yang dibahas sebelumnya. Temanya pun sesuai dengan kondisi kekinian yang sedang dihadapi. Selanjutnya, inilah 10 langkah bertadabbur Al-Quran.

1. Membaca

Bacalah ayat dengan bacaan Tadabbur. Salah satu syarat penting yang harus dihadirkan pada saat membaca ayat secara bersama-sama adalah menyucikan diri, menghadirkan qalbu dalam setiap membaca ayat, memperhatikan adab tilawah dan membaca dengan tartil.

Para peserta diajak membaca ayat secara tartil dan memperhatikan tanda-tanda bacaan seperti berhenti pada penggalan-penggalan ayat yang sempurna kalimatnya. Sehingga, sejak awal, para peserta bisa menangkap pesan-pesan penting dari ayat yang dibahas. Nah untuk bisa tilawah mutadabbirah, peserta sebaiknya bersuci dulu, sekalipun sedang menstruasi tetap dianjutkan agar mengambil air wudhu. Di sini juga penting diketahui adab-adab tilawah seperti, tidak meletakkan buku di atas mushaf Al-Qur’an, tidak meletakkan kaki di dekat atau di atas mushaf, dan lainnya. Meletakkan pulpen atau kayu untuk menunjuk tidak apa-apa.

2. Menghafal

Hafalkan ayat yang akan ditadabburi dengan hafalan yang benar. Sebaiknya seorang guru terlebih dulu memperdengarkan bacaan yang benar baik dibacakan sendiri atau dengan memperdengarkan adio para qurra misalnya bacaan murattal Imam Masjidil Haram atau yang lainnya yang kita ketahui memang bagus qiraahnya.

Menghafalkanlah ayat yang akan ditadabburi sebaiknya diwajibkan. Ketika kita menghafalkan ayatnya maka secara hirarkis tadabburnya bisa dinikmati, runut, dan pemahamannya juga sistematis. Ayat yang dihafal untuk ditadabburi sebaiknya tidak melebihi dari 10 ayat karena seperti itulah yang diajarkan oleh para sahabat Nabi. Tidak menambah ayat baru kecuali setelah 10 ayat yang telah dipelajari itu telah diamalkan. Singkatnya, tidak ada metodologi yang paling bagus dan tepat selain apa yang diajarkan para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an karena memang itulah yang dicontohkna oleh Rasulullah SAW.

3. Menulis Teks Ayat

Tuliskan ayat dengan dan rasm utsmani. Tentunya lebih baik lagi jika dituliskan dengan kaedah imla’ (mendikte) jika pesertanya sudah mengerti atau menguasai kaidah Bahasa Arab.  Tulislah ayat-ayat yang sudah dihafal karena dengannya akan semakin memperkuat hafalan. Banyak manfaat manfaat dari menulis teks ayat dalam bertadabbur Al-Qur’an. Pertama, hafalam bertambah kuat, kedua, kosa kata yang dijelaskan khususnya bagi pada pemula, menjadi mudah dicerna. Misalnya, ketika akan dijelaskan arti per kata berdasarkan Tafsir Jalalain, ketika peserta sudah menulisa maka sangat mudah menangkap penggalan yang ada dalam Tafsir Jalalain.

4. Terjemahkan Kosa Kata

Menerjemahkan kosa kata dalam Al-Qur’an dalam tadabbur sangat penting. Selain menambah perbendaharan kosa kata Bahasa Arab, juga menambah wawasan dan pemahaman dalam mentadabburi setiap ayat dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, seiring kemajuan zaman, sekarang ini sudah ada mushaf Al-Qur’an dengan tafsir kosa kata.

Menerjemahkan kosa kata ayat sangat banyak manfaatnya. Misalnya, penambahan khazanah kosa kata peserta sehingga tanpa disadari, mereka sebetulnya sudah belajar Bahasa Al-Qur’an. Pada saat yang sama juga belajar tafsir kosa kata. Kelebihan ilmu syariat dan ilmu umum lainnya adalah mendefinisikan kosa kata secara tepat sebelum membahas ranting-ranting ilmiah yang terkait ayat yang dibahas.

Karenanya peserta diminta untuk memperhatikan dan menerjemahkan semua kosa kata sesuai kaidah. Namun ini memang terkendala oleh tingkat pengetahuan setiap peserta dengan ilmu alat. Misalnya, ilmu nahwu, ilmu balaghah, ilmu saraf, dan setererusnya. Semakin banyak ilmu alat peserta akan semakin bagus .

5. Terjemahkan ayat secara keseluruhan

Peserta boleh menggunakan terjemahan keseluruhan ayat versi Departemen Agama RI. Tetapi setelah mereka mempelajari kosa kata, mereka juga bisa menerjemahkan secara keseluruhan dengan tafsir kosa kata. Untuk tafsir kosa kata, AQL Islamic Center menggunakan sumber utamanya adalah Kitab Tafsir Mufradat Al-Qur’an oleh Ragib Al-Isfahani.

6. Makna Kebahasaan

Di sini peserta boleh menerjemahkan secara semantik atau makna kebahasaan. Misalnya dari tafsir Albiqai, atau Tafsir kontemporer yang menjelaskan makna konotasi kebahasaan. Baik secara ilmiah maupun secara kesusateraan. Apa yang membedakan antara makna kebahasaan dengan makna kosa kata? Kosa kata semata-mata menerjemahkan kata-kata dalam Bahasa Arab, sementara makna kebahasaan sudah tafsir kosa kata. Ini yang mendasar. Disinilah tafsir mufradat Ragib Al-Isfahany digunakan. Karena makna kebahassan yang ada dalam kosa kata Al-Qur’an tidak melulu sama dalam bahasa Arab. Tergantung kata-kata apa yang ditempatkan pada kalimat yang dmaksud.

7. Tafsir Ringkas

Peserta diminta membaca tafsir ringkas seperti tafsir Jalalain, Al-Muyassar atau tafsir sejenis yang sifatnya ringkas seperti

Almuntakhab dan Aysar Tafasir. Membaca tafsir ringkas penting bagi pemula untuk menangkap makna keseluruhan karena tidak mungkin bisa bertadabbur Qur’an kalau belum memahami maknanya. Agar tidak salah memaknai, maka kami gunakan tafsir ringkas dulu.

8. Pesan-Pesan Utama Ayat

Tangkap pesan-pesan utama ayat. Peserta diminta secara aktif elihat ayat dan tidak memasukkan opininya. Ambil pesan penting dalam ayat, ambil apa adanya. Itu sudah dikasi syaratnya ketika membaca dari awal. Berhenti pada tempat dimana di situ ada kalimat semputna ayat dan maknanya bisa ditangkap. Dalam satu ayat bisa maknanya banyak bisa juga sedikit. Tergantung pada kekuatan dan pemnguasaan ilmu alat peserta tadabbur. Namun secara garis besarnya, setiap orang bisa melakukannya.

(Perhatikan kalimat sempurna dalam ayat)

9. Inti Pesan Ayat

Peserta diminta menyimpulkan inti pesan ayat. Mana kata kunci atau klunya. Untuk bisa mendapatklan pesan inti ayat, ada lima atau enam pesan-pesan ayat tetapi klunya bisa diketahui dari yat sebelumnya atau ayat setelahnya. Ini sekaligus mengajarkan kepada peserta tentang tafsir tematik atau tafsir maudu’i. Peserta bisa menangkap dari ayat sebelum atau sesudahnya, bahwa saat ini mereka berada pada topik apa. Setelah berpikir dan menganalisa secara cermat nyatakan klu atau inti pesan ayat.

10. Tafsirkan

Disinilah peserta dapat belajar tadabbur. Yaitu mentadabburi Al-Qur’an. Bagaimana caranya? Pertama, mereka harus merangkum makna tafsir yang dirangkum. Yaitu sudah belajar tafsir kosa kota dan sudah belajar makna kebahasaan. Selanjutnya, mereka harus belajar merangkum tafisr ayat yang sedang dipelajari dari berbagai sumber.

Berikut ini langkah praktis dalam menafsirkan ayat;

a.Tafsir & Tadabbur Ayat

Gabungkan dalam tulisan anda apa yang terdapat pada hal-hal berikut: (Setiap kata harus berdalil dan jangan asal mengarang)

  1. Tafsir Pilihan
  2. Semantika
  3. Tafsir Qur’an dengan Qur’an
  4. Tafsir Qur’an dengan Hadits, baik dari Ibnu Abbas maupun Ath-Thabary.
  5. Tafsir menurut pakar/ahli dibidangnya, yaitutafsir kontemporer yang ditulis oleh para pakar ketika itu sudah terkait dengan masalah ilmiah.

b.Hikmah dan Pencerahan

Setelah bisa merangkum semuanya barulah mereka merenung dan mentadabburi ayat dan mengambil hikmah dari ayat. Silahkan berimprovisasi sedalam mungkin, dan dapatkan mutiara Al-Qur’an semaksimal yang anda dapat lakukan. Petik hikmah dan pencerahan dari setiap ayat. Caranya, lakukan tiga tahapan di bawah ini yaitu:

  • Cara Pandang (Mindset)
    Cara pandang baru apakah yang anda dapatkan dari ayat? Tuliskan!
  • Sikap Mental (Attitude)
    Nyatakan sikap mental anda setelah memiliki cara pandang baru seperti diatas.
  • Perilaku (Behavior)

Tuliskan, perilaku apa yang harus anda lakukan setelah mengerti dengan cara pandang dan sadar dengan sikap mental diatas.

  • Mukjizat (bahasa, sastra, Fakta-Fakta Ilmiah, Angka, Seni, dan lainnya)

Mukjizat Qur’an apa yang didapatkan dari ayat yang ditadabburi? Gunakan referensi seluas-luasnya yang menjelaskan tentang mukjizat Al-Qur’an. Mukjizat ini klasifikasinya sangat luas sejalan dengan ilmu pengetahuan. Mukjizat bahasa, sastra, fakta ilmiah, angka, seni, dan lainnya.

Nah, dalam membentuk mindset, peserta tadabbur diminta setelah membaca  atau mempelajari keseluruhan ayat, bertanya kepada mereka. Pertama, cara pandang baru apakah yang didapatkan dari ayat tersebut. Kedua, nyatakan sikap mental Anda setelah mendapatkan cara pandang baru. Ketiga, apa yang seharusnya Anda kerjakan? Untuk mempermudah, minta peserta menuliskan, makrifatullah apa yang mereka dapatkan yang sedang didapati. Keyakinan baru apa yang didapatkan.

Biasanya dikaitkan dengan Asmaul Husna atau sifat Allah yang lain. Ketika peserta sudah berhasil menangkap sisi makrifatullah yang dipelajari ini menunjukkan keberhasilan seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ajak peserta merasakan langsung apa yang ada di balik ayat ini. Untuk membentiuk sikap mental, peserta menangkap dua hal penting dari ayat itu, perintah apa, dan larangan apa? Agar ini menjadi syariat dan sistem hidup bagi mereka dan itu akan membentuk mental mereka yang akan terikat pada syariat Allah SWT. Jadi bayangkan mindsetnya sudah dibentuk dengan makrifatullah, attitudenya dibentuk dengan mengikat diri pada perintah dan larangan. Langkah ini sangat efektif dalam pembentukan karakter.

Pembentukan perilaku, yaitu akhlak atau perilaku apa yang harus dijalankan dan dikerjakan setelah mempelajari ayat tersebut. Nanti, ini sangat dipengaruhi kekuatan berpikir masing-masing peserta. Karena tindakan yang ditunjukkan nanti akan membentuk klasifikasi.

Tauhid

Prinsip tauhid dan perilaku tauhid apa yang seharusnya dilakukan?

Akhlak

Prinsip akhlak dan ketaatan apa yang harus dilaksanakan?

Hukum

Hukum apa yang mereka dapatkan. Bisa merujuk pada tafsir ayat-ayat hukum. Hukum apa yang didapatkan, bisa diambil dari tafsir Al-Qurtubi, Ali Ash-Ashabuny, atau tafsir ahkam kontemporer.

Bayangkan, dalam satu ayat begitu banyak dan panjang penjelasannya. Maka dari 10 Langkah Tadabbur Al-Qur’an ini, wajar jika dalam setiap Tadabbur hanya satu ayat yang bisa dipelajari. Akhirnya inilah yang menjadi harapan dan cita-cita yang sudah lama dipancangkan AQL Islamic Center dalam rangka membangun kesadaran kembali di kalangan ummat Islam agar mereka bersungguh-sungguh mempelajari dan memahami Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Lewat pendekatan Tadabbur diharapkan lahir pribadi-pribadi Mukmin sebagaimana Salafush Shalih yang telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan bernilai ibadah semata tetapi dipelajari, dipahami, dan digali maknanya. Dengan begitu, akan didapatkan banyak mutiara-mutiara yang berharga lalu diejawantahkan dalam prilaku sehari-hari. Di tengah gelombang amukan krisis dan demoralisasi yang melanda bangsa saat ini, sistem Tadabbur Al-Qur’an yang dikembangkan AQL Islamic Center dapat menjadi klinik pengobatan yang dapat memberikan obat penawar krisis yang bersumber dari Al-Qur’an; Al-Qur’an sebagai Asy-Syifaa. Amien Yaa Robbal ‘Alamin.

Sebarkan Kebaikan!