10 Kewajiban Umat Islam Terhadap Palestina

Palestina kembali memanas. Lebih parah dari sebelumnya, saat ini hak rakyat Palestina untuk beribadah di Masjid Al-Aqsha kian dipersempit, bahkan dilarang sepenuhnya. Umat Islam di Palestina pun berjuang untuk mendapatkan haknya kembali. Dalam usaha ini, di antara mereka ada yang gugur syahid dan banyak yang luka-luka, bahkan Imam Masjid Palestina pun sempat terkena tembak. Melihat kondisi demikian, sebagai umat Islam, apa kira-kira kewajiban yang dilakukan terhadap saudara-saudara muslim di Palestina?

Prof. Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya yang berjudul “Filisthîn Wâjibât al-Ummah” (2010: 10-124) menyebutkan sepuluh kewajiban umat Islam terhadap kasus yang menimpa saudara-saudara Palestina, yang sampai sekarang tak kunjung berakhir.

Pertama, kembali secara total kepada Allah. Bila dilihat dari sepanjang perjalanan sejarah umat Islam, Palestina menjadi barometer kekuatan umat Islam. Selama umat Islam kuat, maka eksistensinya bisa dijaga dengan baik. Namun, ketika lemah, dengan sangat mudahnya umat lain merebutnya. Maka, berpegang teguh kembali kepada nilai-nilai yang digariskan Allah secara total adalah kuncinya. Dan itu sudah dibuktikan oleh Umar bin Khattab RA dan Shalahuddin Al-Ayyubi dan pejuang muslim kenamaan yang lain.

            Kedua, memahami permasalahan. Pemahaman dari sisi hukum fikih, perundang-undangan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan bumi Palestina. Sebab, jika ini tidak dipahami, maka akan membuat pejuang salah langka dan arah. Dikiranya dia sedang berjuang, padahal justru jauh dari nilai perjuangan. Ketiga, ikut bergerak secara aktif. Paling tidak gerak aktif yang bisa dilakukan misalnya, menyampaikan urgensi problematika ini kepada keluarga, masyarakat, negara dan lebih luas lagi jangkauannya.

             Keempat, menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Hal ini senantiasa disuarakan dan disampaikan kepada umat. Tanpa persatuan dan kesatuan tidak mungkin Palestina bisa tegak kembali. Dalam sejarah membuktikan, Palestina bisa direbut oleh non-Islam karena kondisi umat centang perenang. Kelima, sungguh-sungguh menghidupkan spirit jihad. Umat harus sadar akan nilai ini dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, tidak berleha-leha, dan tidak menghabiskannya untuk main-main belaka. Spirit jihat ini harus tetap menyala dan digelorakan.

            Keenam, jihad dengan harta. Jika jihad dengan jiwa tidak bisa, maka umat bisa membantu Palestina dengan harta. Jihad dengan harta ini adalah kontribusi besar yang bisa membantu mereka. Mengenai pentingnya jihad harta ini, sampai-sampa dalam al-Qur`an kebanyakan didahulukan dari jihad dengan jiwa raga.

Ketujuh, boikot. Memboikot produk-produk zionis serta negara yang mendukungnya adalah langkah yang sangat setrategis untuk membantu rakyat Palestina. Boikot sendiri pernah terjadi di zaman abi. Sahabat Tsumamah bin Utsal RA pernah mempraktikkannya. Pada tahun ketujuh Hijriah, dia memboikot gandum kepada orang kafir Quraiys akibat perlakuan zalim mereka kepada Rasulullah SAW (HR. Bukhari, Muslim). Akibatnya, orang kafir Qurays kesusahan sampai mengirim Abu Sufyan untuk meminta izin kepada Rasulullah SAW agar boikot segera disudahi karena sangat berdampak buruk bagi perekonomian mereka.

Kedelapan, memupuk harapan. Hal ini sangat penting karena tanpa ada harapan, mana mungkin Palestina bisa merdeka kembali. Umat Islam harus menananamkan harapan umat dan menghindarkan mereka dari rasa pesimistik dan putus asa. Kesembilan, menanamkan kesabaran. Kesabaran yang berdasarkan ilmu dan amal nyata. Sabar dalam Islam mengandung kemuliaan, kekuatan, kehormatan dan harapan. Di samping itu, sabar juga sebagai persiapan untuk memperoleh kepemimpinan dan kekuasaan. Tanpa sabar dalam berjuang, mustahil Palestina bisa kembali.

Kesepuluh, mengkaji sejarah Palestina. Sejarah adalah cermin umat. Tidak mungkin bisa membantu Palestina dengan baik tanpa menguasai sejarahnya. Dari sejarah Palestina, umat Islam bisa belajar apa saja faktor kebangkitan dan kejatuhannya.

Umat Islam tentu harus berkaca kepada sejarah. Jangan sampai, apa yang dilakukan Kerajaan Spanyol terhadap umat Islam di Andalusia kembali terjadi. Suatu gerakan genosida yang membuat penduduk Islam musnah. Israel pun –kalau umat tidak waspada- akan menerapkan sistem itu. Akhir pilu dirasakan umat Islam di Spanyol kala itu. Pada tanggal 2 Rabiul Awal 897 H (2 Februari 1492 M), Abu Abdullah Muhammad al-Shaghir (Raja Islam terakhir di Andalusia) menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan. Peristiwa ini terjadi pasca gugurnya gerakan perlawanan umat Islam yang terjadi di seperempat Granada yang merupakan benteng terakhir umat Islam di Andalusia.

Abu Abdullah Ash-Shaghir keluar dari Kota Granada, ia berdiri di atas bukit di antara perbukitan dekat istana Hamra –Istana Pemerintahan Kerajaan di Granada- pada waktu itu ia menangis sedih. Melihat kondisi demikian, Ibunya (Aisyah al-Hurrah) berkomentar, “Ya. Nangislah seperti wanita. Seorang raja yang tidak mampu membela negaranya laiknya lelaki pahlawan.” (Abdul Karim, 2007: 19)

“Ketika Raja terakhir Islam di Andalusia menangisi nasib naas kejatuhan Islam, ibunya berkomentar, “Ya. Nangislah seperti wanita. Seorang raja yang tidak mampu membela negaranya laiknya lelaki pahlawan.” (Abdul Karim, 2007: 19)

Bersamaan dengan itu umat Islam keluar dari tempat itu selamanya setelah memimpin Andalusia sekitar delapan abad lamanya. Hanya saja, hari-hari membawa banyak kejutan-kejutan. Negeri yang pernah dipimpin oleh umat Islam selama delapan abad itu sekarang disinggahi hanya sekitar seratus ribu muslim saja. Dengan demikian, maka menjadi negara yang paling sedikit pemeluk Islamnya. Ini adalah pelajaran yang harus diambil dan dipahami oleh umat Islam.

Sebarkan Kebaikan!